Kamis, 16 Januari 2014

konflik yang ada di dalam masyarakat dan diri kita sendiri

a.       Pengertian konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
  • Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
  • Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
  • Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
  • Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

Jenis-jenis konflik

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :
  • Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
  • Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
  • Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
  • Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
  • Konflik antar atau tidak antar agama
  • Konflik antar politik.
  • konflik individu dengan kelompok

Akibat konflik

Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
  • meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
  • keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
  • perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
  • kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
  • dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
  • Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.
a.       Contoh dari konflik yang terjadi di masyarakat
Tawuran antar pelajar selalu menjadi agenda perbincangan setiap tahunnya, masalah ini bukan perkara baru, dan jangan dianggap perkara yang remeh. Padahal kalau kita kaji masalah tawuran antar pelajar akan membawa dampak panjang, bukan hanya bagi pelajar yang terlibat, namun juga untuk keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai akhirnya melibatkan pihak kepolisian. 
Hal ini tampak beralasan karena senjata yang biasa dibawa oleh pelajar-pelajar yang dipakai pada saat tawuran bukan senjata biasa. Bukan lagi mengandalkan keterampilan tangan, tinju satu lawan satu. Sekarang, tawuran sudah menggunakan alat bantu, seperti benda yang ada di sekeliling (batu dan kayu) mereka juga memakai senjata tajam layaknya film action di layar lebar dengan senjata yang bisa merenggut nyawa seseorang. Contohnya, samurai, besi bergerigi yang sengaja dipasang di sabuk, pisau, besi.
Penyimpangan seperti tawuran antar pelajar, menjadi kerusuhan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang tidak bisa disebut sebagai kenakalan remaja, namun sudah menjadi tindakan kriminal. Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana bisa seorang pelajar tega melakukan tindakan yang ekstrem sampai menyebabkan hilangnya nyawa pelajar lain hanya karena masalah-masalah kecil? 
Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak nakal, kelompok kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah.
Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa contoh di antaranya, yaitu:
Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di tanggapi dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-pelajar dua sekolah saling bermusuhan.
Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan tawuran antar pelajar, kita bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai penyebab tawuran antar pelajar dari tiga poin diatas.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang Berlebihan
Rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan rasa solidartas adalah hal yang lumrah atau biasa kita temukan dalam kehidupan, misalkan dalam persahabatan rasa setiakawan akan menjadi alasan mengapa persahabatan bisa menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika ditempatkan dalam porsi yang pas dan seimbang.
Namun, rasa setia kawan yang berlebihan akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya adalah mengakibatkan tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar pelajar yang dipicu karena ketersingguhan seorang siswa yang tersenggol oleh pelajar sekolah lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks lainnya. Misalkan, permasalahan pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain sebagainya.
Pemahaman arti sebuah persahabatan memang perlu dipahami oleh masing-masing individu pelajar itu sendiri. Tawuran antar pelajar yang diakibatkan karena rasa setiakawan harus segera dihentikan, karena hal ini akan memicu kawan-kawan yang lain untuk mendapatkan hak atau perlakuan yang sama pada waktu mengalami masalah.
Ini dapat menjadikan pelajar malas dalam menyelesaikan masalah dirinya sendiri, tanpa mau menyelesaikannya sendiri dan cenderung tidak berani bertanggung jawab. Menjadi ketergantungan dan akan menimbulkan dampak yang negatif bagi perkawanan itu sendiri.
Tawuran antar pelajar akibat sejarah permusuhan dengan sekolah lainKadang permasalahan tawuran antar pelajar dipicu pula dengan adanya sejarah permusuhan yang sudah ada dari generasi sebelumnya dengan sekolah lain, beredarnya cerita-cerita yang menyesatkan, bahkan memunculkan mitos berlebihan membuat generasi berikutnya, terpicu melakukan hal yang sama. 
Contohnya, sebut saja sekolah A dengan sekolah B adalah musuh abadi, dimana masing-masing sekolah akan melakukan hal yang antipati terhadap sekolah lain. Biasanya, akan ada pelajar yang menjadi perbincangan, semacam tokoh bagi sekolahnya, karena kehebatannya pada waktu berkelahi.
Dalam permasalahan tawuran antar pelajar yang dipicu karena permasalahan ini, perlu adanya pendekatan khusus, yang memasukkan program kerja sama dengan sekolah tersebut. Peranan sekolah dan guru memegang peranan penting.
Ironisnya, sebuah pertandingan persahabatan. Misalnya, olahraga. Kadang memicu sebuah permusuhan dan perkelahian. Hal ini akhirnya menuntut kecerdasan dan ketelitian pihak penyelenggara dalam mengemas sebuah acara.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Jiwa Premanisme
Premanisme bukan istilah yang asing lagi. Premanisme yang berasal dari kata “preman” adalah sebutan orang yang cenderung memakai kekerasan fisik dalam menyelesaikan permasalahannya. Kemenangan di ukur karena kekuatan fisiknya bukan intelektualitas. Premanisme bertolak belakang dengan jiwa seorang pelajar, yang dituntut kecerdasan berpikir, kecerdasan mengelola emosi, dll. 
Jiwa premanisme dalam jiwa pelajar dapat dihilangkan karena dia tidak semerta merta muncul begitu saja, ia disebabkan oleh sesuatu hal. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui faktor penyebab sikap premanisme dalam diri pelajar. Faktor di luar diri pelajar adalah faktor yang kental dapat mempengaruhi ke dalam. Beberapa contohnya adalah:
Tayangan-tayangan di televisi, baik film ataupun liputan berita yang menceritakan atau sengaja mengekspose tema-tema kekerasan dapat mempengaruhi psikis remaja.
Kekerasan yang terjadi di rumah. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya individu pelajar saja yang menjadi korban kekerasan namun kekerasan yang terjadi pada satu anggota keluarganya, dapat mempengaruhi psikis individu. Hal ini yang akan menyebabkan trauma atau kekerasan beruntun yang diakibatkan karena menganggap kekerasan adalah hal yang wajar.
Acara awal tahun, orientasi sekolah adalah acara di mana pelajar baru diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Kegiatan yang pada dasarnya adalah untuk memahami dan mengenali sekolah, kegiatan serta untuk lebih kenal kawan-kawannya malah cenderung disalah gunakan oleh senior untuk ajang balas dendam dari apa yang pernah ia terima pada waktu yang sama menjadi junior, pola-pola yang dipakai cenderung dengan pola militer. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan dalam dunia pendidikan. Pola yang menjadi semacam suntikan yang terus diturunkan oleh setiap generasi. Agar terhindar dari pola yang berlebihan, diperlukan adanya pengawasan dari pihak sekolah dan turunnya langsung pengajar dalam kegiatan ini. Kedisiplinan berbeda dengan kekerasan, hal ini seharusnya menjadi tantangan setiap panitia kegiatan dalam mengemas ide, gagasan acara pada waktu perkenalan sekolah, menjadi sesuatu yang inofatif, kreatif sehingga diharapkan lambat laun sikap premanisme akibat perpeloncoan akan menjadi cara kuno dan tidak menarik lagi.
Dari ketiga faktor penyebab tersebut, kita bisa mendapatkan bayangan atau solusi yang terbaik seperti apa dan bagaimana melakukan proses penyelesaiannya. Walaupun permasalahan tawuran antar pelajar memang bukan hal sepele yang bisa langsung diselesaikan, namun diperlukan adanya proses berkelanjutan, kesadaran dan kerja sama dengan semua pihak, bukan hanya sekolah, orangtua, masyarakat dan penegak hukum, tapi juga kesadaran pemahaman pelajar sebagai seorang individu, sebagai generasi muda yang penuh dengan tanggung jawab.
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas, yaitu: “Pemahaman” bagaimana seorang pelajar disaat sedang mengalami pencarian identitas, cenderung sangat mudah labil. Dan kelabilan inilah yang ahirnya tawuran antar pelajar terjadi.Ada beberapa cara yang efektif untuk mencegah sebelum tawuran antar pelajar terjadi, misalkan dengan:
Membuat dan memfasilitasi ruang-ruang kegiatan yang positif.
Memberikan kebebasan berpendapat dan berekspresi dan tetap adanya kontrol dari pihak-pihak yang berkaitan khususnya orang-orang terdekat, mencoba lebih terbuka dan mengenali serta memberikan solusi yang positif ketika remaja sedang mengalami emosi.
Sikap optimis dan kepercayaan terhadap pelajar perlu ditumbuhkan kembali, sehingga suatu saat kita tidak akan mendengar lagi berita atau kabar mengenai kejadian tawuran antar pelajar di negeri kita ini, yang ada kita bangsa Indonesia dipenuhi kabar berita tentang pelajar-pelajar yang produktif, kritis, mampu menjadi juara dalam berbagai bidang, baik berupa kompetisi pengetahuan dan ilmu pengetahuan. 
Sudah saatnya generasi muda membuktikan potensi dalam dirinya, dan sudah menjadi tugas kewajiban orang tua, sekolah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya bentuk-bentuk penyelewengan pelajar, terutama permasalahan yang membuat was-was menjadi sebuah tindakan kriminal, tawuran antar pelajar

b.       Contoh dari konflik yang terjadi dalam diri saya sendiri
setelah membahas konflik yang terjadi di dalam masyarakat sekarang saya akan membahas konflik yang yang terjadi di dalam diri saya. Konflik yang paling sering terjadi adalah perbedaan pendapat dengan orang tua. Contohnya saja dalam memilih tempat pendidikan, terkadang ada saja orang tua yang mengatur dimana anaknya akan melanjutkan sekolah,  jurusan yang harus di tempuh dan lain sebagainya. Padahal apa yang orang tua sarankan itu tidak sesuai dengan keinginan sang anak , namun apabila kita memilih yang sesaui dengan keinginan terkadang orang tua tidak setuju karna mereka mengganggap kamus yang kita pilih kurang baik atau jurusan yang kita ambil prospek untuk kedepannya kurang bagus dan lain sebagainya. Disinilah akan dimulainya konfilik antara orang tua dan anak. Orang tua biasanya akan terus memberikan masukkan masukkan agar si anak mau menuruti keinginan orang tuanya. Memang orang tua selalu memberikan yang terbaik untuk anakknya, tetapi adakalanya yang  dianggap orang tua baik yang terbaik belum tentu terbaik juga untuk sang anak. Karna biasanya si anak merasa memiliki potensi di bidang A tetapi orang tuanya ingin si anak mendapat pendidikan di bidang B. Konflik ini memang sering terjadi apalagi untuk calon calon mahasiswa, karna tinggal satu langkah lagi untuk menuju masa depan. Oleh karna itu biasanya orang tua sangat berhati hati untuk mempercayakan anaknya meneruskan suatu pendidikan dimana sang anak akan belajar, dan jurusan apa yang anaknya ambil.
Untuk menyelesaikan konflik seperti ini memang sangat sulit, karna memang tidak mudah merubah suatu keputusan yang sudah tertanam dalam diri sang anak maupun orang tua. Oleh karna itu sebaiknya orang tua dan anak menyelesaikan masalah ini dengan berbicara baik baik, selain itu antara satu sama lain harus saling pengertian. Orang tua harus mendengarkan penjelasan anak kenapa ia bersikeras ingin kuliah di jurusan tersebut, apabila alasannya yang di berikan anak memiliki hal positif lebih baik orang tualah yang mengalah namun apabila alasnnya tidak dapat di terima seperti hanya ingin ikut ikutan temannya saja lebih baik orang tua tidak usah menerima. apabila orang tua menolak alasan anaknya sebaiknya dia memberi pengertian kenapa orang tua tersebut masih tidak setuju si anak berkuliah di tempat tersebut, dan si anak sebaikknya mendengrakan nasihat orang tuanya apabila pilihan orang tuanya memang lebih baik dari pilihannya.




Jumat, 10 Januari 2014

Pengaruh pola asuh orang tua terhadap terhadap perkembangan perilaku anak


Pengaruh pola asuh orang tua terhadap terhadap perkembangan perilaku anak
pada saat pertama kita lahir di dunia kita ini bagaikan selembar kertas putih yang belum ternoda sedikitpun, suci, bersih, belum tahu apa apa, dan belum tahu apa apa mengenai dunia. Saat kita lahir orang yang pertama akan kita lihat adalah orang tua. Sebelum mulai berinteraksi dengan dunia luar kita akan berinteraksi terlebih dahulu dengan orang tua. Orang tua adalah istitusi pertama kita, waktu kecil kita akan dihabiskan paling banyak dengan anggota keluarga terutama orang tua. Sebelum terjun ke masyarakat orang tua lah yang akan mengajari kita bagaimana cara kita bersikap tehadap orang lain di luar nanti. Orang tualah yang akan mengajarkan tentang norma agama seperti keharusan beribadah kepada sang pencipta, norma hukum seperti tidak boleh mengambil barang yang bukan hak kita, norma kesusilaan seperti berjabat tangan harus dengan tangan kanan, norma kesopanan seperti menyapa apabila bertemu dengan orang yang dikenal. Apa yang diajarkan orang tua sangatlah berpengaruh besar bagi tingkah laku kita saat dewasa nanti.
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang pola asuh, menurut saya sendiri pola asuh adalah suatu cara yang diterpakan orang tua dalam membimbing anaknya. Seperti yang sudah kita ketahui ada beberapa contoh pola asuh yang diterpakan oleh orang tua seperti pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang terlalu mengekang untuk melakukan apa yang orang tua itu kehendaki dan cenderu tidak memberi kebebasan anak untuk melakuakan apa yang si anak  mau. Pola asuh ini biasnya membuat anak anak kehilanagan kesempatan mereka untuk bermain dengan teman temannya, karna orang tua yang memiliki pola asuh seperti ini tidak akan membiarkan anaknya pergi terlalu lama dan jauh dari pengawasan mereka. Mungkin anak yang di asuh dengan pola asuh cenderung menjadi anak yang pintar, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat anak yang di asuh dengan pola asuh ini ingin merasakan apa yang namanya kebebasan, seperti berbohong pada orang tuanya dan mengatakan akan mengerjakan tugas kelompok padahal ia ingin merasakan bagaimana rasnya bermain dengan bebas bersama teman teman sebayanya. Tetapi ada juga anak yang tetap menuruti perintah perintah orang tuanya karena iya merasa takut jika ketahuan berbohong dan akan di hukum oleh orang tuanya.
Kebalikan dari sifat otoriter tersebut ada yang bernama pola asuh permisif, yaitu pola asuh yang  cenderung mengabaikan anaknya dan terlalu memberi kebebasan lebih tehadap anak. Pola asuh ini biasanya dimiliki oleh para pengusaha yang meyakini bahwa anaknya akan bahagia jika ia memberikan semua yang anaknya inginkan denga memberinya uang  jajan  yang berlebih, kendaraan mewah, gadget yang canggih, baju baju yang keren dan trendi dan semua fasilitas mewah lainnya tanpa bimbingan dak kasih sayang dari orang tua tersebut , dan mereka cenderung  menyerahkan semua tanggung jawab untuk mengsuh anaknya kepada pembatu. Ini adalah pola asuh yang paling berbahaya. Karna tidak diawasi secara ketat maka ia akan melakukan apa saja yang ia inginkan dengan sesuka hati, seperti pulang larut malam karana asik bermain dengan teman temannya. Yang paling berbahaya adalah saat mereka mulai terjerumus pada pergaulan bebas, sex bebas, kemudian mulai mencoba apa yang namanya narkoba dan lain sebagainya.  Anak anak yang diasuh dengan pola seperti ini juga akan merasa kurang kasih sayang oleh karna itu dia akan mencoba mencari masalah sehingga perhatian kedua orang tuanya bisa tertuju pada mereka.
Pola asuh selanjutnya yaitu pola asuh demokratis, pola asuh ini adalah pola asuh yang terletak di antara pola asuh permisif dan otoriter. Pola asuh ini adalah pola asuh yang memperbolehkan anaknya untuk melakukan apa yang iya mau selama itu tidak melanggar peraturan yang dibuat oleh orang tuanya dan tidak melanggar norma norma yang berlaku, pola asuh ini adalah pola asuh yang kebayakan digunakan orang tua karna paling efektif untuk membangun karakter yang bai pada anak. Pada pola asuh ini anak tidak terlalu dimaja jadi dia akan berusaha sendiri untuk mendapatkan yang ia mau apabila orang tuanya belum menghendaki untuk mengabulkannya. Pergaulannya tidak akan telalu bebas karna si anak sudah memiliki batasan batasan bermain, dan juga tidak akan menjadi terlalu kuper karna tidak ada larangan bermain dari orang tuanya. Ia  tidak akan merasa kurang kasih sayang sehingga tidak akan berbuat yang aneh aneh.  Pada pola asuh ini anak dan orang tua akan memiliki hubungan yang harmonis sehingga sang anak tidak aka segan untuk menceritakan masalah apa yang ia alami hari ini dan meminta solusi dari orang tuanya untuk menyelesaikan masalah tersebut  dengan  baik.  Sehingga lambat laun si anak akan memiliki fikiran yang dewasa hungga akhirnya ia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik.
Demikianlah pendapat saya tentang  macam macam pola asuh orang tua dan bagaimana pengaruhnya terhadap prilakunya kedepanya, oleh karna itu saya anjurkan kepada orang tua untuk tidak terlalu mengkekan atau pun memberi kebebasan berlebih pada anak. Sekian artikel dari saya mohon maaf bila ada kata kata yang salah, terimakasih.

stratifikasi sosial

    Pengertian Stratifikasi Sosial
·         Pengertian : Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (vertikal).
Menurut ahli:
Dari Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan kelas-kelas secara vertikal yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang lebih tinggi sampai yang paling rendah.

   Latar Belakang Timbulnya Stratifikasi Sosial
Stratifikasi dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sebagai hasil proses dalam masyarakat. Faktor-faktor penyebabanya adalah kemampuan atau kepandaian, umur fisik, jenis kelamin, sifat keaslian anggota masyarakat, dan harta benda. Misalnya seseorang mempunyai kemampuan lebih seperti fisik yang kuat dapat melindungi yang lemah dan orang yang pandai dan bijaksana akan dijadikan pemimpin dalam masyarakat. Dengan demikian akan terbentuk lapisan masyarakat berdasarkan kemampuan tertentu.
Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Menurut Huky (1982) yaitu faktor-faktor penyebab terbentuknya stratifikasi sosial dalam masyarakat didukung oleh:
a.       Perbedaan ras dan budaya
Perbedaan ciri biologis, seperti warna kulit, latar belakang etnis, budaya pada masyarakat tertentu dapat menyebabkan pembagian sosial tertentu. Misalnya, pelapisan atas dasar warna kulit pada masyarakat Afrika Selatan pada zaman Apartheid atau anggapan masyarakat Eropa sebelum Perang Dunia II yang mengatakan bahwa kaum kulit putih adalah lapisan masyarakat paling atas.
b.      Pembagian tugas yang terspesialisasi
Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi stratifikasi dan kekuasaan dari order sosial yang muncul. Perbedaan posisi atau status anggota masyarakat berdasarkan  pembagian kerja ini terdapat dalam setiap masyarakat, baik pada masyarakat primitif maupun pada masyarakat yang sudah maju.
c.       Kelangkaan
Adanya kelangkaan dalam masyarakat menyangkut pembagian hak dan kewajiban. Stratifikasi lambat laun terjadi alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Kelangkaan ini terasa bila masyarakat mulai membedakan posisi, alat-alat kekuasaan dan fungsi-fungsi yang ada dalam waktu yang sama. Kondisi yang mengandung perbedaan hak dan kesempatan diantara para anggota masyarakat dapat menciptakan stratifikasi sosial.
Secara umum, stratifikasi sosial terbentuk karena hal-hal berikut:
·         Tugas dan penempatan seseorang dalam masyarakat
·         Hadiah (reward) berdasarkan penilaian materi/non materi
·         Kelangkaan pekerjaan karena memerlukan keahlian/ketrampilan
Faktor-faktor penentu dari setiap masyarakat berbeda-beda. Dalam masyarakat berburu, faktor penentu utamanya adalah kepandaian berburu. Pada masyarakat bercocok tanam, faktor penentunya adalah tuan tanah atau pembuka lahan. Stratifikasi sosial sengaja dibentuk sebagai sub sistem sosial ntuk mewujudkan tujuan tertentu. Perbedaan status dan peranan dalam stratifikasi sosial mempengaruhi prestise sosial tertentu, sebagai penghormatan dan penghargaan dari masyarakat kepada pemegang status.

  Dasar Stratifikasi Sosial
Dasar stratifikasi dalam masyarakat lebih disebabkan karena danya sesutau ya g dihargai lebih, baik itu kekayaan, ilmu pengetahuan, kekuasaan dan sebagainya. Ukuran yang dipakai untuk menggolongkan seseorang pada suatu lapisan tertentu adalah ukuran kumulatif dan bukan ukuran tunggal.
Menurut Soerjono Soekanto, kriteria yang dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat kepada lapisan tertentu adalah kekayaan, kekuasaan, keturunan (kehormatan), dan ilmu pengetahuan.
Dasar-dasar stratifikasi sosial Kriteria untuk menggolongkan masyarakat ke golongan tertentu ditentukan oleh:
a.       Kekayaan
Kriteria kekayaan berkaitan erat dengan pendapatan. Semakin besar pendapatan seseorang semakin besar kesempatan baginya untuk memiliki sebanyak mungkin harta benda dan semakin besar peluangnya untuk menduduki strata atas. Orang yang memiliki harta benda banyak (kaya) akan lebih dihargai dan dihormati masyarakat daripada orang yang miskin. Karena itu, masyarakat menempatkan orang-orang ini pada lapisan masyarakat atas.
b.      Kekuasaan
Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menentukan kehendaknya terhadap orang lain. Kekuasaan ini sangat dipengaruhi unsur lain seperti kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, kekayaan, yang dimiliki, kepandaian, bahkan kelicikan. Anggota masyarakat yang memiliki kekuasaan dan wewenang terbesar akan menempati lapisan sosial yang paling atas. Sebaliknya, anggota masyarakat yang tidak mempunyai kekuasaan serta hanya menjadi bawahan akan menempati lapisan bawah.
c.       Kehormatan
Kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
d.      Keturunan
Kriteria keturunan terlepas dari kekayaan dan kekuasaan. Dalam masyarakat feodal, anggota masyarakat dari keluarga raja atau kaum bangsawan akan menempati lapisan atas. Mereka umumnya dikenal dengan ungkapan orang berdarah biru.
e.       Pendidikan/pengetahuan
Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, orang yang memiliki keahlian atau profesionalis akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki keahlian dan berpendidikan rendah ataupun buta huruf.
Stratifikasi timbul karena adanya sesuatu yang dihargai. Pada masyarakat modern, dasar stratifikasinya meliputi kekayaan, pendidikan, kekuasaan, kelangkaan. Pada masyarakat Pedesaan, Dasar stratifikasinya meliputi Kekayaan, kebangsawanan, senioritas, jenis kelamin, kuat fisik, martabat, kehormatan.

    Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial
Unsur-unsur stratifikasi sosial Stratifikasi sosial memiliki dua unsur yaitu:
a.       Status dan Kedudukan
Status adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Status merupakan pencerminan hak dan kewajiban dalam tingkah laku manusia. Ada 3 cara memperoleh status:
Ascribe Status merupakan kedudukan yang di peroleh seseorang secara otomatis tanpa usaha yaitu melalui kelahiran. Misalnya, seorang anak memperoleh gelar bangsawan dari orang tuanya.
Achived Status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini bersifat tebuka bagi siapa saja. Misalnya kedudukan yang diperoleh melalui pendidikan, seperti dokter, insinyur, guru dll.
Assigned Status merupakan status atau kedudukan yang diberikan. Kedudukan ini merupakan kombinasidari peolehan status melalui usaha dan di peroleh secara otomatis. Status ini diperoleh melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain. Misalnya, jasa atas perjuangan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Contoh: gelar pahlawan, penerima kalpatru dan siswa teladan.
b.      Peran
Peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari orang yang melakukan peranan.       Menurut Soerjono Soekanto di dalam peran mengandung tiga hal:
§  Norma-norma di dalam masyarakat
Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat yang merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
§  Konsep tentang yang dilakukan
Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
§  Perilaku individu
Peranan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat
Peran merupakan aspek yang dinamis dari suatu kedudukan atau status. Peranan memiliki beberapa fungsi bagi individu maupun orang lain. Fungsi-funsi tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Mempertahankan kelangsungan struktur masyarakat
b.      Membantu mereka yang tidak mampu dalam masyarakat
c.       Menjadi sarana aktualisasi diri
Konflik peranan timbul apabila orang harus memilih peranan dari dari dua status atau lebih yang dimilikinya. Umumnya konflik timbul karena peranan-peranan itu saling bertentangan. Hal ini umumnya terjadi ketika seseorang berada dalam keadaan tertekan karena merasa dirinya tidak mampu atau tidak sesuai untuk melakukan perannya dengan sempurna.
F.      Macam-Macam Pelapisan (stratifikasi) sosial
1.      Berdasarkan status yang diperoleh secara Alami
a.       Stratifikasi berdasarkan perbedaan usia
b.      Stratifikasi berdasarkan senioritas
c.       Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin
d.      Stratifikasi berdasarkan sistem kekerabatan
e.       Stratifikasi berdasarkan keanggotaan dalam kelompok tertentu
2.      Berdasarkan status yang diperoleh melalui serangkan usaha
a.       Stratifikasi sosial atas dasar pendidikan
b.      Stratifikasi sosial atas dasar pekerjaan
Berdasarkan maka pencaharian stratifikasi sosial dibedakan sbb:
- Elite: orang-orang kaya yang menempati kedudukan tertinggi
- Prefesional : orang-orang yang berijazah dan bergelar kesarjanaan
- Semi profesional : para pegawai kantor, pedagang, teknisi berpendidikan menengah
- Tenaga terampil : orang-orang yang mempunyai keterampilan teknik mekanik.
- Tenaga tidak terdidik : misal, pembantu rumah tangga dan tukang kebun.
c.       Stratifikasi sosial atas dasar ekonomi
d.      Stratifikasi sosial atas dasar kriteria sosial
e.       Stratifikasi atas dasar kriteria politik
Seorang tokoh bernama Mac Iver menyebutkan adanya tiga pola umum dalam stratifikasi politik yaitu:
a.       Tipe kasta
Sistem lapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisah yang tegas dan kaku.
b.      Tipe oligarki
Tipe ini mempunyai garis pemisah yang tegas, tetapi dasar untuk menentukan perbedaan kelas.
c.       Tipe Demokrastis
Garis-garis pemisah antara lapisan luwes/fleksibel/tidak kaku.

G.    Sifat dan Fungsi Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dibedakan menjadi:
1.      Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification)
Stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertical. Stratifikasi sosial ini bersifat diskriminatif.
2.      Stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification)
Stratifikasi ini bersifat demokratis. Kemungkinan mobilitas sangat besar.
3.      Stratifikasi sosial campuran
Stratifikasi sosial merupakan kombinasi antara stratifikasi sosial tertutup dan terbuka.
Fungsi Stratifikasi sosial yaitu sebagai berikut:
Ø  Distribusi hak-hak istimewa yang objectif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang
Ø  Sistem pertanggaan pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan
Ø  Kriteria sistem pertentangan yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi, keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
Ø  Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah.
Ø  Tingkat mudah sukarnya bertukar kedudukan
Ø  Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

   Pembagian Kelas atau Golongan
Terdapat beberapa karakteristik stratifikasi sosial yang umumnya terjadi dalam masyarakat. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
·         Adanya perbedaan status dan peranan
·         Adanya distribusi hak dan kewajiban
·         Adanya prestise dan penghargaan
·         Adanya simbol dalam status
·         Adanya pola interaksi yang berbeda
·         Adanya stratifikasi yang melibatkan kelompok
·         Adanya strstifiksi yang bersifat universal
Bentuk pembagian kelas atau golongan tentu berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Bentuk itu sangat dipengaruhi oleh faktor yang menjadi dasarnya yaitu:
1.      Ekonomi
Pembagian atau pelapisan masyarakat berdasarkan ekonomi akan membedakan masyarakat atas kepemilikan harta. Berdasarkan atas kepemilikan harta, masyarakat dibagi dalam 3 kelas:
-          Kelas atas
Terdiri dari kelompok orang-orang kaya yang dengan leluasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan secara berlebihan.
-          Kelas menengah
Terdiri dari kelompok orang-orang berkecukupan yang sudah bisa memenuhi kebutuhan pokok
-          Kelas bawah
Terdiri dari kelompok orang miskin yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan primer
            Secara umum, pelapisan masyarakat di negara-negara demokratis meliputi enm golongan sebagai berikut:
·         Elite
Orang-orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan/pekerjaan yang oleh masyarakat sangat dinilai atau dihargai.
·         Profesional
Orang-orang yang berijazah dan bergelar serta dari dunia perdagangan yang berhasil
·         Semi profesional
Pegawai kantor, pedagang, teknisi yang berpendidikan menengah, dan mereka yang tidak bergelar
·         Skill
Orang-orang yang mempunyai ketrampilan mekanis, teknis, dan kapster
·         Semi skill
Pekerja pabrik tanpa ketrampilan, supir, pelayan restoran
·         Unskill
Pramuwisma, tukang kebun, pasukan kuning (pegawai kebersihan jalan)
2.      Sosial
Sistem pelapisan yang mengelompokan masyarakat menurut status. Umumnya nilai dan status seseorang dalam masyarakat di ukur dari prestise atau gengsi.
3.      Politik
Pelapisan masyarakat didasarkan pada wewenang dan kekuasaan. Makin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi lapisan sosialnya

Sumber http://robiatuladawiah123.blogspot.com/2013/07/makalah-status-dan-peran-berkaitan.html

stratifikasi sosial

    Pengertian Stratifikasi Sosial
·         Pengertian : Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (vertikal).
Menurut ahli:
Dari Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan kelas-kelas secara vertikal yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang lebih tinggi sampai yang paling rendah.

   Latar Belakang Timbulnya Stratifikasi Sosial
Stratifikasi dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sebagai hasil proses dalam masyarakat. Faktor-faktor penyebabanya adalah kemampuan atau kepandaian, umur fisik, jenis kelamin, sifat keaslian anggota masyarakat, dan harta benda. Misalnya seseorang mempunyai kemampuan lebih seperti fisik yang kuat dapat melindungi yang lemah dan orang yang pandai dan bijaksana akan dijadikan pemimpin dalam masyarakat. Dengan demikian akan terbentuk lapisan masyarakat berdasarkan kemampuan tertentu.
Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Menurut Huky (1982) yaitu faktor-faktor penyebab terbentuknya stratifikasi sosial dalam masyarakat didukung oleh:
a.       Perbedaan ras dan budaya
Perbedaan ciri biologis, seperti warna kulit, latar belakang etnis, budaya pada masyarakat tertentu dapat menyebabkan pembagian sosial tertentu. Misalnya, pelapisan atas dasar warna kulit pada masyarakat Afrika Selatan pada zaman Apartheid atau anggapan masyarakat Eropa sebelum Perang Dunia II yang mengatakan bahwa kaum kulit putih adalah lapisan masyarakat paling atas.
b.      Pembagian tugas yang terspesialisasi
Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi stratifikasi dan kekuasaan dari order sosial yang muncul. Perbedaan posisi atau status anggota masyarakat berdasarkan  pembagian kerja ini terdapat dalam setiap masyarakat, baik pada masyarakat primitif maupun pada masyarakat yang sudah maju.
c.       Kelangkaan
Adanya kelangkaan dalam masyarakat menyangkut pembagian hak dan kewajiban. Stratifikasi lambat laun terjadi alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Kelangkaan ini terasa bila masyarakat mulai membedakan posisi, alat-alat kekuasaan dan fungsi-fungsi yang ada dalam waktu yang sama. Kondisi yang mengandung perbedaan hak dan kesempatan diantara para anggota masyarakat dapat menciptakan stratifikasi sosial.
Secara umum, stratifikasi sosial terbentuk karena hal-hal berikut:
·         Tugas dan penempatan seseorang dalam masyarakat
·         Hadiah (reward) berdasarkan penilaian materi/non materi
·         Kelangkaan pekerjaan karena memerlukan keahlian/ketrampilan
Faktor-faktor penentu dari setiap masyarakat berbeda-beda. Dalam masyarakat berburu, faktor penentu utamanya adalah kepandaian berburu. Pada masyarakat bercocok tanam, faktor penentunya adalah tuan tanah atau pembuka lahan. Stratifikasi sosial sengaja dibentuk sebagai sub sistem sosial ntuk mewujudkan tujuan tertentu. Perbedaan status dan peranan dalam stratifikasi sosial mempengaruhi prestise sosial tertentu, sebagai penghormatan dan penghargaan dari masyarakat kepada pemegang status.

  Dasar Stratifikasi Sosial
Dasar stratifikasi dalam masyarakat lebih disebabkan karena danya sesutau ya g dihargai lebih, baik itu kekayaan, ilmu pengetahuan, kekuasaan dan sebagainya. Ukuran yang dipakai untuk menggolongkan seseorang pada suatu lapisan tertentu adalah ukuran kumulatif dan bukan ukuran tunggal.
Menurut Soerjono Soekanto, kriteria yang dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat kepada lapisan tertentu adalah kekayaan, kekuasaan, keturunan (kehormatan), dan ilmu pengetahuan.
Dasar-dasar stratifikasi sosial Kriteria untuk menggolongkan masyarakat ke golongan tertentu ditentukan oleh:
a.       Kekayaan
Kriteria kekayaan berkaitan erat dengan pendapatan. Semakin besar pendapatan seseorang semakin besar kesempatan baginya untuk memiliki sebanyak mungkin harta benda dan semakin besar peluangnya untuk menduduki strata atas. Orang yang memiliki harta benda banyak (kaya) akan lebih dihargai dan dihormati masyarakat daripada orang yang miskin. Karena itu, masyarakat menempatkan orang-orang ini pada lapisan masyarakat atas.
b.      Kekuasaan
Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menentukan kehendaknya terhadap orang lain. Kekuasaan ini sangat dipengaruhi unsur lain seperti kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, kekayaan, yang dimiliki, kepandaian, bahkan kelicikan. Anggota masyarakat yang memiliki kekuasaan dan wewenang terbesar akan menempati lapisan sosial yang paling atas. Sebaliknya, anggota masyarakat yang tidak mempunyai kekuasaan serta hanya menjadi bawahan akan menempati lapisan bawah.
c.       Kehormatan
Kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
d.      Keturunan
Kriteria keturunan terlepas dari kekayaan dan kekuasaan. Dalam masyarakat feodal, anggota masyarakat dari keluarga raja atau kaum bangsawan akan menempati lapisan atas. Mereka umumnya dikenal dengan ungkapan orang berdarah biru.
e.       Pendidikan/pengetahuan
Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, orang yang memiliki keahlian atau profesionalis akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki keahlian dan berpendidikan rendah ataupun buta huruf.
Stratifikasi timbul karena adanya sesuatu yang dihargai. Pada masyarakat modern, dasar stratifikasinya meliputi kekayaan, pendidikan, kekuasaan, kelangkaan. Pada masyarakat Pedesaan, Dasar stratifikasinya meliputi Kekayaan, kebangsawanan, senioritas, jenis kelamin, kuat fisik, martabat, kehormatan.

    Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial
Unsur-unsur stratifikasi sosial Stratifikasi sosial memiliki dua unsur yaitu:
a.       Status dan Kedudukan
Status adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Status merupakan pencerminan hak dan kewajiban dalam tingkah laku manusia. Ada 3 cara memperoleh status:
Ascribe Status merupakan kedudukan yang di peroleh seseorang secara otomatis tanpa usaha yaitu melalui kelahiran. Misalnya, seorang anak memperoleh gelar bangsawan dari orang tuanya.
Achived Status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini bersifat tebuka bagi siapa saja. Misalnya kedudukan yang diperoleh melalui pendidikan, seperti dokter, insinyur, guru dll.
Assigned Status merupakan status atau kedudukan yang diberikan. Kedudukan ini merupakan kombinasidari peolehan status melalui usaha dan di peroleh secara otomatis. Status ini diperoleh melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain. Misalnya, jasa atas perjuangan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Contoh: gelar pahlawan, penerima kalpatru dan siswa teladan.
b.      Peran
Peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari orang yang melakukan peranan.       Menurut Soerjono Soekanto di dalam peran mengandung tiga hal:
§  Norma-norma di dalam masyarakat
Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat yang merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
§  Konsep tentang yang dilakukan
Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
§  Perilaku individu
Peranan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat
Peran merupakan aspek yang dinamis dari suatu kedudukan atau status. Peranan memiliki beberapa fungsi bagi individu maupun orang lain. Fungsi-funsi tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Mempertahankan kelangsungan struktur masyarakat
b.      Membantu mereka yang tidak mampu dalam masyarakat
c.       Menjadi sarana aktualisasi diri
Konflik peranan timbul apabila orang harus memilih peranan dari dari dua status atau lebih yang dimilikinya. Umumnya konflik timbul karena peranan-peranan itu saling bertentangan. Hal ini umumnya terjadi ketika seseorang berada dalam keadaan tertekan karena merasa dirinya tidak mampu atau tidak sesuai untuk melakukan perannya dengan sempurna.
F.      Macam-Macam Pelapisan (stratifikasi) sosial
1.      Berdasarkan status yang diperoleh secara Alami
a.       Stratifikasi berdasarkan perbedaan usia
b.      Stratifikasi berdasarkan senioritas
c.       Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin
d.      Stratifikasi berdasarkan sistem kekerabatan
e.       Stratifikasi berdasarkan keanggotaan dalam kelompok tertentu
2.      Berdasarkan status yang diperoleh melalui serangkan usaha
a.       Stratifikasi sosial atas dasar pendidikan
b.      Stratifikasi sosial atas dasar pekerjaan
Berdasarkan maka pencaharian stratifikasi sosial dibedakan sbb:
- Elite: orang-orang kaya yang menempati kedudukan tertinggi
- Prefesional : orang-orang yang berijazah dan bergelar kesarjanaan
- Semi profesional : para pegawai kantor, pedagang, teknisi berpendidikan menengah
- Tenaga terampil : orang-orang yang mempunyai keterampilan teknik mekanik.
- Tenaga tidak terdidik : misal, pembantu rumah tangga dan tukang kebun.
c.       Stratifikasi sosial atas dasar ekonomi
d.      Stratifikasi sosial atas dasar kriteria sosial
e.       Stratifikasi atas dasar kriteria politik
Seorang tokoh bernama Mac Iver menyebutkan adanya tiga pola umum dalam stratifikasi politik yaitu:
a.       Tipe kasta
Sistem lapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisah yang tegas dan kaku.
b.      Tipe oligarki
Tipe ini mempunyai garis pemisah yang tegas, tetapi dasar untuk menentukan perbedaan kelas.
c.       Tipe Demokrastis
Garis-garis pemisah antara lapisan luwes/fleksibel/tidak kaku.

G.    Sifat dan Fungsi Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dibedakan menjadi:
1.      Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification)
Stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertical. Stratifikasi sosial ini bersifat diskriminatif.
2.      Stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification)
Stratifikasi ini bersifat demokratis. Kemungkinan mobilitas sangat besar.
3.      Stratifikasi sosial campuran
Stratifikasi sosial merupakan kombinasi antara stratifikasi sosial tertutup dan terbuka.
Fungsi Stratifikasi sosial yaitu sebagai berikut:
Ø  Distribusi hak-hak istimewa yang objectif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang
Ø  Sistem pertanggaan pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan
Ø  Kriteria sistem pertentangan yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi, keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
Ø  Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah.
Ø  Tingkat mudah sukarnya bertukar kedudukan
Ø  Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

   Pembagian Kelas atau Golongan
Terdapat beberapa karakteristik stratifikasi sosial yang umumnya terjadi dalam masyarakat. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
·         Adanya perbedaan status dan peranan
·         Adanya distribusi hak dan kewajiban
·         Adanya prestise dan penghargaan
·         Adanya simbol dalam status
·         Adanya pola interaksi yang berbeda
·         Adanya stratifikasi yang melibatkan kelompok
·         Adanya strstifiksi yang bersifat universal
Bentuk pembagian kelas atau golongan tentu berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Bentuk itu sangat dipengaruhi oleh faktor yang menjadi dasarnya yaitu:
1.      Ekonomi
Pembagian atau pelapisan masyarakat berdasarkan ekonomi akan membedakan masyarakat atas kepemilikan harta. Berdasarkan atas kepemilikan harta, masyarakat dibagi dalam 3 kelas:
-          Kelas atas
Terdiri dari kelompok orang-orang kaya yang dengan leluasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan secara berlebihan.
-          Kelas menengah
Terdiri dari kelompok orang-orang berkecukupan yang sudah bisa memenuhi kebutuhan pokok
-          Kelas bawah
Terdiri dari kelompok orang miskin yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan primer
            Secara umum, pelapisan masyarakat di negara-negara demokratis meliputi enm golongan sebagai berikut:
·         Elite
Orang-orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan/pekerjaan yang oleh masyarakat sangat dinilai atau dihargai.
·         Profesional
Orang-orang yang berijazah dan bergelar serta dari dunia perdagangan yang berhasil
·         Semi profesional
Pegawai kantor, pedagang, teknisi yang berpendidikan menengah, dan mereka yang tidak bergelar
·         Skill
Orang-orang yang mempunyai ketrampilan mekanis, teknis, dan kapster
·         Semi skill
Pekerja pabrik tanpa ketrampilan, supir, pelayan restoran
·         Unskill
Pramuwisma, tukang kebun, pasukan kuning (pegawai kebersihan jalan)
2.      Sosial
Sistem pelapisan yang mengelompokan masyarakat menurut status. Umumnya nilai dan status seseorang dalam masyarakat di ukur dari prestise atau gengsi.
3.      Politik
Pelapisan masyarakat didasarkan pada wewenang dan kekuasaan. Makin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi lapisan sosialnya

Sumber http://robiatuladawiah123.blogspot.com/2013/07/makalah-status-dan-peran-berkaitan.html

stratifikasi sosial

    Pengertian Stratifikasi Sosial
·         Pengertian : Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (vertikal).
Menurut ahli:
Dari Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan kelas-kelas secara vertikal yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang lebih tinggi sampai yang paling rendah.

   Latar Belakang Timbulnya Stratifikasi Sosial
Stratifikasi dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sebagai hasil proses dalam masyarakat. Faktor-faktor penyebabanya adalah kemampuan atau kepandaian, umur fisik, jenis kelamin, sifat keaslian anggota masyarakat, dan harta benda. Misalnya seseorang mempunyai kemampuan lebih seperti fisik yang kuat dapat melindungi yang lemah dan orang yang pandai dan bijaksana akan dijadikan pemimpin dalam masyarakat. Dengan demikian akan terbentuk lapisan masyarakat berdasarkan kemampuan tertentu.
Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Menurut Huky (1982) yaitu faktor-faktor penyebab terbentuknya stratifikasi sosial dalam masyarakat didukung oleh:
a.       Perbedaan ras dan budaya
Perbedaan ciri biologis, seperti warna kulit, latar belakang etnis, budaya pada masyarakat tertentu dapat menyebabkan pembagian sosial tertentu. Misalnya, pelapisan atas dasar warna kulit pada masyarakat Afrika Selatan pada zaman Apartheid atau anggapan masyarakat Eropa sebelum Perang Dunia II yang mengatakan bahwa kaum kulit putih adalah lapisan masyarakat paling atas.
b.      Pembagian tugas yang terspesialisasi
Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi stratifikasi dan kekuasaan dari order sosial yang muncul. Perbedaan posisi atau status anggota masyarakat berdasarkan  pembagian kerja ini terdapat dalam setiap masyarakat, baik pada masyarakat primitif maupun pada masyarakat yang sudah maju.
c.       Kelangkaan
Adanya kelangkaan dalam masyarakat menyangkut pembagian hak dan kewajiban. Stratifikasi lambat laun terjadi alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Kelangkaan ini terasa bila masyarakat mulai membedakan posisi, alat-alat kekuasaan dan fungsi-fungsi yang ada dalam waktu yang sama. Kondisi yang mengandung perbedaan hak dan kesempatan diantara para anggota masyarakat dapat menciptakan stratifikasi sosial.
Secara umum, stratifikasi sosial terbentuk karena hal-hal berikut:
·         Tugas dan penempatan seseorang dalam masyarakat
·         Hadiah (reward) berdasarkan penilaian materi/non materi
·         Kelangkaan pekerjaan karena memerlukan keahlian/ketrampilan
Faktor-faktor penentu dari setiap masyarakat berbeda-beda. Dalam masyarakat berburu, faktor penentu utamanya adalah kepandaian berburu. Pada masyarakat bercocok tanam, faktor penentunya adalah tuan tanah atau pembuka lahan. Stratifikasi sosial sengaja dibentuk sebagai sub sistem sosial ntuk mewujudkan tujuan tertentu. Perbedaan status dan peranan dalam stratifikasi sosial mempengaruhi prestise sosial tertentu, sebagai penghormatan dan penghargaan dari masyarakat kepada pemegang status.

  Dasar Stratifikasi Sosial
Dasar stratifikasi dalam masyarakat lebih disebabkan karena danya sesutau ya g dihargai lebih, baik itu kekayaan, ilmu pengetahuan, kekuasaan dan sebagainya. Ukuran yang dipakai untuk menggolongkan seseorang pada suatu lapisan tertentu adalah ukuran kumulatif dan bukan ukuran tunggal.
Menurut Soerjono Soekanto, kriteria yang dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat kepada lapisan tertentu adalah kekayaan, kekuasaan, keturunan (kehormatan), dan ilmu pengetahuan.
Dasar-dasar stratifikasi sosial Kriteria untuk menggolongkan masyarakat ke golongan tertentu ditentukan oleh:
a.       Kekayaan
Kriteria kekayaan berkaitan erat dengan pendapatan. Semakin besar pendapatan seseorang semakin besar kesempatan baginya untuk memiliki sebanyak mungkin harta benda dan semakin besar peluangnya untuk menduduki strata atas. Orang yang memiliki harta benda banyak (kaya) akan lebih dihargai dan dihormati masyarakat daripada orang yang miskin. Karena itu, masyarakat menempatkan orang-orang ini pada lapisan masyarakat atas.
b.      Kekuasaan
Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menentukan kehendaknya terhadap orang lain. Kekuasaan ini sangat dipengaruhi unsur lain seperti kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, kekayaan, yang dimiliki, kepandaian, bahkan kelicikan. Anggota masyarakat yang memiliki kekuasaan dan wewenang terbesar akan menempati lapisan sosial yang paling atas. Sebaliknya, anggota masyarakat yang tidak mempunyai kekuasaan serta hanya menjadi bawahan akan menempati lapisan bawah.
c.       Kehormatan
Kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
d.      Keturunan
Kriteria keturunan terlepas dari kekayaan dan kekuasaan. Dalam masyarakat feodal, anggota masyarakat dari keluarga raja atau kaum bangsawan akan menempati lapisan atas. Mereka umumnya dikenal dengan ungkapan orang berdarah biru.
e.       Pendidikan/pengetahuan
Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, orang yang memiliki keahlian atau profesionalis akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki keahlian dan berpendidikan rendah ataupun buta huruf.
Stratifikasi timbul karena adanya sesuatu yang dihargai. Pada masyarakat modern, dasar stratifikasinya meliputi kekayaan, pendidikan, kekuasaan, kelangkaan. Pada masyarakat Pedesaan, Dasar stratifikasinya meliputi Kekayaan, kebangsawanan, senioritas, jenis kelamin, kuat fisik, martabat, kehormatan.

    Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial
Unsur-unsur stratifikasi sosial Stratifikasi sosial memiliki dua unsur yaitu:
a.       Status dan Kedudukan
Status adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Status merupakan pencerminan hak dan kewajiban dalam tingkah laku manusia. Ada 3 cara memperoleh status:
Ascribe Status merupakan kedudukan yang di peroleh seseorang secara otomatis tanpa usaha yaitu melalui kelahiran. Misalnya, seorang anak memperoleh gelar bangsawan dari orang tuanya.
Achived Status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini bersifat tebuka bagi siapa saja. Misalnya kedudukan yang diperoleh melalui pendidikan, seperti dokter, insinyur, guru dll.
Assigned Status merupakan status atau kedudukan yang diberikan. Kedudukan ini merupakan kombinasidari peolehan status melalui usaha dan di peroleh secara otomatis. Status ini diperoleh melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain. Misalnya, jasa atas perjuangan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Contoh: gelar pahlawan, penerima kalpatru dan siswa teladan.
b.      Peran
Peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari orang yang melakukan peranan.       Menurut Soerjono Soekanto di dalam peran mengandung tiga hal:
§  Norma-norma di dalam masyarakat
Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat yang merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
§  Konsep tentang yang dilakukan
Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
§  Perilaku individu
Peranan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat
Peran merupakan aspek yang dinamis dari suatu kedudukan atau status. Peranan memiliki beberapa fungsi bagi individu maupun orang lain. Fungsi-funsi tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Mempertahankan kelangsungan struktur masyarakat
b.      Membantu mereka yang tidak mampu dalam masyarakat
c.       Menjadi sarana aktualisasi diri
Konflik peranan timbul apabila orang harus memilih peranan dari dari dua status atau lebih yang dimilikinya. Umumnya konflik timbul karena peranan-peranan itu saling bertentangan. Hal ini umumnya terjadi ketika seseorang berada dalam keadaan tertekan karena merasa dirinya tidak mampu atau tidak sesuai untuk melakukan perannya dengan sempurna.
F.      Macam-Macam Pelapisan (stratifikasi) sosial
1.      Berdasarkan status yang diperoleh secara Alami
a.       Stratifikasi berdasarkan perbedaan usia
b.      Stratifikasi berdasarkan senioritas
c.       Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin
d.      Stratifikasi berdasarkan sistem kekerabatan
e.       Stratifikasi berdasarkan keanggotaan dalam kelompok tertentu
2.      Berdasarkan status yang diperoleh melalui serangkan usaha
a.       Stratifikasi sosial atas dasar pendidikan
b.      Stratifikasi sosial atas dasar pekerjaan
Berdasarkan maka pencaharian stratifikasi sosial dibedakan sbb:
- Elite: orang-orang kaya yang menempati kedudukan tertinggi
- Prefesional : orang-orang yang berijazah dan bergelar kesarjanaan
- Semi profesional : para pegawai kantor, pedagang, teknisi berpendidikan menengah
- Tenaga terampil : orang-orang yang mempunyai keterampilan teknik mekanik.
- Tenaga tidak terdidik : misal, pembantu rumah tangga dan tukang kebun.
c.       Stratifikasi sosial atas dasar ekonomi
d.      Stratifikasi sosial atas dasar kriteria sosial
e.       Stratifikasi atas dasar kriteria politik
Seorang tokoh bernama Mac Iver menyebutkan adanya tiga pola umum dalam stratifikasi politik yaitu:
a.       Tipe kasta
Sistem lapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisah yang tegas dan kaku.
b.      Tipe oligarki
Tipe ini mempunyai garis pemisah yang tegas, tetapi dasar untuk menentukan perbedaan kelas.
c.       Tipe Demokrastis
Garis-garis pemisah antara lapisan luwes/fleksibel/tidak kaku.

G.    Sifat dan Fungsi Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dibedakan menjadi:
1.      Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification)
Stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertical. Stratifikasi sosial ini bersifat diskriminatif.
2.      Stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification)
Stratifikasi ini bersifat demokratis. Kemungkinan mobilitas sangat besar.
3.      Stratifikasi sosial campuran
Stratifikasi sosial merupakan kombinasi antara stratifikasi sosial tertutup dan terbuka.
Fungsi Stratifikasi sosial yaitu sebagai berikut:
Ø  Distribusi hak-hak istimewa yang objectif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang
Ø  Sistem pertanggaan pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan
Ø  Kriteria sistem pertentangan yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi, keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
Ø  Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah.
Ø  Tingkat mudah sukarnya bertukar kedudukan
Ø  Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

   Pembagian Kelas atau Golongan
Terdapat beberapa karakteristik stratifikasi sosial yang umumnya terjadi dalam masyarakat. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
·         Adanya perbedaan status dan peranan
·         Adanya distribusi hak dan kewajiban
·         Adanya prestise dan penghargaan
·         Adanya simbol dalam status
·         Adanya pola interaksi yang berbeda
·         Adanya stratifikasi yang melibatkan kelompok
·         Adanya strstifiksi yang bersifat universal
Bentuk pembagian kelas atau golongan tentu berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Bentuk itu sangat dipengaruhi oleh faktor yang menjadi dasarnya yaitu:
1.      Ekonomi
Pembagian atau pelapisan masyarakat berdasarkan ekonomi akan membedakan masyarakat atas kepemilikan harta. Berdasarkan atas kepemilikan harta, masyarakat dibagi dalam 3 kelas:
-          Kelas atas
Terdiri dari kelompok orang-orang kaya yang dengan leluasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan secara berlebihan.
-          Kelas menengah
Terdiri dari kelompok orang-orang berkecukupan yang sudah bisa memenuhi kebutuhan pokok
-          Kelas bawah
Terdiri dari kelompok orang miskin yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan primer
            Secara umum, pelapisan masyarakat di negara-negara demokratis meliputi enm golongan sebagai berikut:
·         Elite
Orang-orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan/pekerjaan yang oleh masyarakat sangat dinilai atau dihargai.
·         Profesional
Orang-orang yang berijazah dan bergelar serta dari dunia perdagangan yang berhasil
·         Semi profesional
Pegawai kantor, pedagang, teknisi yang berpendidikan menengah, dan mereka yang tidak bergelar
·         Skill
Orang-orang yang mempunyai ketrampilan mekanis, teknis, dan kapster
·         Semi skill
Pekerja pabrik tanpa ketrampilan, supir, pelayan restoran
·         Unskill
Pramuwisma, tukang kebun, pasukan kuning (pegawai kebersihan jalan)
2.      Sosial
Sistem pelapisan yang mengelompokan masyarakat menurut status. Umumnya nilai dan status seseorang dalam masyarakat di ukur dari prestise atau gengsi.
3.      Politik
Pelapisan masyarakat didasarkan pada wewenang dan kekuasaan. Makin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi lapisan sosialnya

Sumber http://robiatuladawiah123.blogspot.com/2013/07/makalah-status-dan-peran-berkaitan.html